fbpx

0
0
0
s2sdefault

250px Boneka JailangkungBoneka Jailangkung

Jailangkung adalah sebuah permainan tradisional Nusantara yang bersifat ritual supernatural. Permainan ini bersifat supernatural, umumnya dilakukan sebagai ritual untuk memanggil entitas supernatural. Media yang digunakan untuk menampung makhluk halus atau entitas supernatural yang dipanggil dalam permainan Jailangkung adalah sebuah gayung air yang umumnya terbuat dari tempurung kelapa yang didandani pakaian dan bergagang batang kayu.

Cara memainkan

Biasanya permainan Jailangkung ini dilakukan oleh tiga orang, yaitu dua orang yang memegang boneka jelangkung, dan pawang yang membaca mantra. Permainan ini kebanyakan dilakukan di tempat yang diyakini angker dan biasanya di waktu senja.

Seperti permainan Cay Lan Gongpendahulunya, permainan ini biasanya dimainkan secara beramai-ramai pada saat terang bulan, dan bila makhluk halus tersebut datang, makhluk tersebut akan memperkenalkan dirinya dan bercerita dengan menggunakan bantuan alat tulis. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sangat beraneka ragam, seperti nama makhluk tersebut, tahun berapa meninggal dan penyebab meninggal, bahkan sering juga tentang peruntungan masa yang akan datang dan nomer keberuntungan dalam perjudian.

Dalam perkembangannya, permainan ini menjadi cukup sederhana, dapat dilakukan cukup hanya dengan menggunakan jangkadengan gambar lingkaran lengkap dengan huruf abjad yang tergambar dalam kertas, dan dengan diiringi suatu mantra sederhana.

Permainan ini juga memiliki berbagai macam versi bahasa, mantra versi bahasa Indonesianya adalah:

Jelangkung jelangsat, Di sini ada pesta, Pesta kecil-kecilan,Jelangkung jelangsat, Datang tidak diundang, Pergi tidak diantar.

Kata-kata tersebut diucapkan berkali-kali, dan setelah makhluk halus diyakini sudah masuk ke dalam boneka, maka pemain dapat bertanya apapun yang mereka mau. Pertanyaan tersebut akan dijawab dengan alat tulis yang diikat di bawah boneka tersebut.

Sumber: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Jailangkung

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

3a661f58 c6fe 4f8c bcdc f2b499d87bce 169

Foto: Danau Toba (Afif/detikTravel)

Danau Tobadi Sumatera Utara memiliki legenda yang diceritakan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Legenda Danau Toba pun tak lepas dari ikan mas yang banyak terdapat di sana.

Dihimpun dari berbagai sumber, alkisah ada seorang petani bernama Toba yang sedang memancing di sungai. Dia sering memancing, namun belum mendapat ikan untuk waktu yang lama.

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

putroe neng 20170409 200820Putroe Neng

Apakah Anda pernah berpikir untuk menikah hingga lebih dari puluhan kali?

Kisah ini terjadi seorang perempuan bernama Putroe Neng yang hidup pada masa perang dahulu.

Putroe Neng, merupakan salah satu perempuan 'perkasa' yang berasal dari Aceh.

Tidak hanya dapat menumbangkan laki-laki di medan perang, namun juga saat 'malam' datang.

Nama asli Putroe adalah Nian Nio Lian Khie, nama yang ia pakai sebelum menjadi muslim dan menikah dengan Sultan Meurah Johan.

Putroe merupakan seorang komandan perang perempuan dari Tiongkok berpangkat Jendral dari China Buddha.

Dalam buku 'Putroe Neng: Tatkala Malam Pertama Menjadi Malam Terakhir Bagi 99 Lelaki' karya Ayi Jufridar, ia datang ke Aceh bersama ribuan prajurit perempuan China dan mendirikan kerajaan Seudu.

Meurah Johan, suami pertama Putroe, adalah seorang pangeran yang telah mengalahkan pasukan yang dipimpin oleh istrinya tersebut di medan tempur.

Meurah Johan juga seorang pendiri kerajaan Darud Donya Aceh Darussalam.

Sayangnya pada saat malam pertama, Meurah Johan meninggal di tempat tidur dengan tubuh membiru.

Kematian Meurah bukanlah kesengajaan, dan Putroe Neng tidak tahu menahu masalah ini.

Kemudian pada malam pertama untuk kedua kali, sang suami dari Putroe Neng kembali meninggal.

Kejadian ini kembali terulang hingga 98 lelaki yang menikahi Putroe Neng berikutnya.

Namun kematian tersebut tidak menyurutkan keinginan para lelaki untuk menikah dengan wanita hebat itu.

Padahal disebutkan tidak mudah bagi Putroe Neng untuk menerima pinangan setiap lelaki.

Bahkan dirinya akan memberi syarat berat seperti mahar tinggi atau pembagian wilayah kekuasaan.

Setelah diketahui sebabnya, ternyata ada 'senjata tersembunyi' berupa racun yang terletak pada organ intim Putroe Neng.

Racun ini tidak ditanamkan oleh Putroe sendiri, tapi justru oleh neneknya.

Maksud dari sang nenek adalah untuk mengantisipasi terjadinya pemerkosaan terhadap cucunya saat masa-masa perang.

Hingga pada akhirnya Putroe Neng kembali menikah untuk yang ke-100 kalinya dengan Syeikh Syiah Hudam.

Lelaki ini akhirnya bisa menarik racun yang ada dalam tubuh istrinya dengan cara memasukkan racun itu ke dalam sebuah bambu dan dipotong menjadi dua bagian.

Satu bagian dibuang di laut, sedangkan lainnya dibuang ke gunung.

Sayangnya, meski racun sudah tak lagi bersemayam di tubuh Putroe, pasangan ini sama sekali tidak dikaruniai keturunan.

Dalam buku yang sama, kisah Putroe Neng menikah hingga 100 kali hanyalah mitos.

Pengamat budaya Aceh, Syamsuddin Jalil mengatakan bahwa kisah Putroe Neng bersuami 100 tidak lah benar.

"Tapi itu sebagai gambaran saja bahwa Putroe Neng sudah mengalahkan 100 pria di medan pertempuran," tuturnya, dilansir dari Bangka Pos.

Mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara pun punya pandangan serupa dengan Jalil di buku sejarah buatannya.

Diketahui, makam Putroe Neng dan Syeikh Syiah Hudam berada di jalan Medan, Banda Aceh, Desa Blang Pulo, Lhok Seumawe, Aceh.

Makam Putroe Neng YouTube/HOTNEWS

Informasi mengenai Putroe Neng memang sangat minim. Hingga kini tidak ada yang bisa menjelaskan siapa saja 98 suami Putroe selain Meurah Johan dan Syeikh Syiah Hudam. (*)

Sumber: https://aceh.tribunnews.com/amp/2019/07/19/kisah-putroe-neng-yang-nikahi-100-pria-99-suami-meninggal-saat-malam-pertama

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

ida pfeiffer 1797 1858Ida Pfeiffer (1797-1858), putri dari produsen kapas Austria yang kaya, terkenal karena perjalanannya di seluruh dunia dan seorang penulis buku perjalanan. Buku-buku itu diterjemahkan ke dalam tujuh bahasa. - steemit.com

BAGAIMANA kondisi Sumatera di tahun 1850an. 

Mungkin akan sulit membayangkannya apabila Ida Laura Reyer Pfeiffer tak menceritakan kisah perjalanannya ke Sumatera pada tahun 1852 sampai dengan 1853.

"Para tawanan perang diikat pada sebuah pohon dan dipenggal sekaligus,” tulis Ida Laura Reyer Pfeiffer dalam catatan perjalaannya di Sumatra.

"Darah mereka diawetkan untuk minum, dan kadang dibuat menjadi semacam puding yang disajikan dengan nasi.”

Siapapun yang membaca kisahnya, barangkali bakal ngilu.

Namun, kisah itu belumlah selesai.

“Bagian tubuh kemudian dibagikan,” Ida melanjutkan kisahnya.

"Telinga, hidung, dan telapak kaki adalah bagian milik Rajah, yang juga memiliki klaim atas bagian lain. Telapak tangan, telapak kaki, daging kepala, jantung, dan hati—yang semuanya adalah hidangan aneh—dan semua daging dipanggang dan disantap dengan garam.”

Ida tidak menyaksikan kengerian itu dengan mata kepalanya.

Dia mendapat informasi tersebut dari beberapa pejabat pribumi setingkat bupati di Muara-Sipongie—kini bagian dari Kabupaten Mandailing-Natal, Provinsi Sumatra Utara.

Para pejabat pribumi itu juga meyakinkan Ida bahwa para perempuan tidak diizinkan untuk mengambil bagian dalam makan malam utama.

Kisah tentang Ida Pfeiffer ini merupakan cuplikan dari A Lady's Second Journey Round the World: From London to the Cape of Good Hope, Borneo, Java, Sumatra, Celebes, Ceram, the Moluccas, Etc., California, Panama, Peru, Ecuador, and the United States, Volume 1.

Buku tersebut merupakan catatan perjalanan Ida yang terbit di London pada 1855.

Ida Pfeiffer (14 Oktober 1779—27 Oktober 1858) merupakan pelancong perempuan bergaya tomboi.

Dia mulai melancong pada 1836. Pada 1852-1853 dia mengunjungi sejumlah kawasan di Hindia Belanda: Kalimantan, Sumatra, Jawa, Sulawesi, hingga Kepulauan Maluku.

“Darah mereka diawetkan untuk minum, dan kadang dibuat menjadi puding yang disajikan dengan nasi.”

Berdasarkan kisah dari warga setempat itu dia ingin berkunjung ke dataran tinggi dan berharap dapat menemui kanibal liar dari Batak.

Bagi bangsa Eropa saat itu, orang-orang Batak memang belum banyak dikenal. Atas alasan itulah Ida sangat bernafsu bertemu dengan mereka.

Ketika Ida berada di Padang, rencana perjalanan ke tempat-tempat tersebut sempat dicegah oleh warga setempat.

Mereka bercerita kepada Ida tentang dua misionaris asal Amerika, Henry Lyman dan Samuel Munson, diduga telah dibunuh dan disantap oleh orang Batak pada 1835

Ida Laura Reyer Pfeiffer mengenakan syal dan kain renda. Ida sangat ingin mengatasi keterbatasannya sebagai seorang wanita dari abad ke-19, tetapi dia tidak sepenuhnya menentang kodratnya.

Globe di latar belakang menambah sentuhan ilmiah.

Ida bersama seorang pemandunya menunggang kuda selama perjalanan di pedalaman Sumatra.

Perjalanan di pulau ini dibagi beberapa tahapan atau rute militer.

Setiap 12 hingga 20 kilometer terdapat benteng atau bangunan kecil tempat kantor pemerintah, sekaligus tempat bermalam para pelancong seperti Ida.

Pada pertengahan Agustus 1852, keduanya menuruni bukit di Silindong, dekat Danau Toba.

Namun, sebelum menuju lembah, pemandunya menyarankan supaya  Ida untuk tak menjauh darinya.  

Mereka menyaksikan prosesi yang dilakukan enam lelaki bersenjata tombak.

Ketika kedua orang itu mendekat, mereka justru disambut dengan tombak dan parang. Setelah si pemandu menjelaskan, Ida boleh melewati kawasan itu.

“Di suatu tempat, kejadiaannya bahkan lebih serius,” demikian Ida berkisah.

"Lebih dari 80 lelaki berdiri di jalanan setapak dan menghalangi perjalanan kami.” Kemudian dia melanjutkan,

“Sebelum saya menyadarinya, sekawanan lelaki telah melingkari saya seraya menodongkan tombak mereka, dengan tatapan ngeri dan liar.”

Ida melukiskan sosok lelaki Batak yang mengepungnya.

Mereka berbadan tegap dan kuat, tingginya hampir dua meter, penampilannya beringas dan militan.

Mulut lebar mereka dengan geligi yang menonjol, tampaknya lebih mirip dengan binatang buas ketimbang manusia manapun.”

“Sebelum saya menyadarinya, sekawanan lelaki telah melingkari saya seraya menodongkan tombak mereka, dengan tatapan ngeri dan liar.”

Suasana kian mencekam, para lelaki itu merubungi Ida sembari bersorak-sorai.

“Saya tidak mengerti apa yang terjadi selanjutnya,” ungkapnya. “Saya merasa sudah pasti bahwa ini adalah akhir hidup saya.”

Ida gelisah, demikian dalam catatannya, lantaran suasana kian menakutkan.

Namun, tampaknya dia tidak kehilangan kendali.

Dalam situasi teror, perempuan itu duduk di sebongkah batu.

Lalu, sekonyong-konyong mereka mendatanginya sembari menunjukkan gerakan-gerakan yang mengancam.

Kemudian, Ida bangkit dan mencoba berbicara kepada lelaki beringas di dekatnya dengan bahasa separuh Melayu dan separuh Batak.

Sembari tersenyum Ida berkata, “Mengapa Anda tidak berkata saja bahwa Anda akan membunuh dan memakan seorang perempuan tua seperti saya. Saya pastilah sangat sulit dimakan dan alot.”

Ida, dengan gaya pantomimnya, berusaha menjelaskan kepada mereka bahwa dirinya tidak takut apapun. Bahkan, apabila mereka menginginkannya, dia rela dibawa oleh mereka asalkan mereka mengantarnya ke Eier Tau—Danau Toba.  

Kemudian para lelaki beringas dan bertombak itu melepaskan tawa mereka.

Barangkali, kepercayaan diri yang Ida tunjukkan telah membuat suatu kesan bersahabat kepada mereka.

Pada akhirnya, mereka menyambut Ida dengan uluran tangan, dan lelaki bertombak yang melingkari perlahan membuka jalan untuk dirinya. Ida bersuka cita lantaran terlepas dari bahaya di pedalaman Sumatra.

Dia pun berhasil berjejak di tepian Danau Toba dengan selamat.

Ketika peristiwa itu telah dua tahun berlalu, Ida telah kembali ke kampung halamannya di Wina, Austria. Dia terkejut pada satu pemberitaan dari Hindia Belanda.

“Saya membaca surat kabar yang mewartakan bahwa tiga misionaris asal Prancis  di pedalaman Tappanolla, Batak; telah terbunuh dan dimangsa oleh para kanibal ditengah perayaan dengan tarian dan musik.”

Sejatinya kisah suku kanibal di Sumatra telah diwartakan pertama kali oleh Niccolò de' Conti, penjelajah asal Venesia yang berjejak di Sumatra pada awal abad ke-15.

Rumor tentang suku tersebut terabadikan juga dalam catatan lain pada abad ke-19 dari Thomas Stamford Raffles, Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn, dan Oscar von Kessel.

Selama perjalanannya keliling dunia, dia juga mengumpulkan spesimen aneka satwa dan puspa, juga peranti budaya dari tempat yang dikunjunginya.

Buah tangan Ida dari Batak turut menghias Museum für Völkerkunde, sebuah museum etnografi di Wina: Tongkat 'Tunggal Panaulan' sepanjang hampir dua meter.

Artikel ini telah tayang di NationalGeographic.com dengan judul 'Kengerian Pelancong Perempuan Pertama di Batak pada Abad ke-19'.

Sumber: https://wartakota-tribunnews-com.cdn.ampproject.org/v/s/wartakota.tribunnews.com/amp/2019/07/05/wanita-ini-ke-danau-toba-tahun-1850an-lalu-temui-kanibalisme-simak-kisah-lengkapnya?amp_js_v=a2&_gsa=1&usqp=mq331AQA#aoh=15624749864646&_ct=1562474988594&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&_tf=Dari%20%251%24s&share=https%3A%2F%2Fwartakota.tribunnews.com%2F2019%2F07%2F05%2Fwanita-ini-ke-danau-toba-tahun-1850an-lalu-temui-kanibalisme-simak-kisah-lengkapnya

0
0
0
s2sdefault