fbpx

0
0
0
s2sdefault

Screenshot 20191130 181331Green Boots Everest [Wikipedia]

Misteri 3 Jasad Abadi yang Membeku di Zona Kematian Gunung Everest. 

Gunung Everest memang menjadi gunung tertinggi di dunia, tetapi selain itu, gunung ini adalah pemakaman terbuka terbesar yang pernah ada.

Gunung setinggi 8.848 meter ini, Rabung puncaknya menandakan perbatasan antara Nepal dan Tibet; puncaknya berada di Tibet. Puncak Everest berada di ketinggian 29.029 kaki (8.848 meter) di atas permukaan laut.

Mengutip BBC, yang tercatat hingga Maret 2019, jumlah kematian yang tercatat di Gunung Everest berada di kisaran 280-300 jiwa. Banyak mayat tetap disana sebagai pengingat bagi mereka para pendaki. 

Sejak 1953 ketika Edmund Hillary dan Tenzing Norgay mendaki puncak untuk pertama kalinya, ribuan orang kini mengikuti jejak mereka, menantang iklim yang keras dan medan berbahaya hanya untuk merasakan kemenangan sesaat.

Beberapa dari pendaki bahkan tidak pernah meninggalkan gunung Everest hingga akhir hayat mereka.

Bagian puncak gunung, kira-kira menjulang di atas 26.000 kaki (7,9 Km), dikenal sebagai "zona kematian."

"Pendaki bisa saja mulai mengalami penyakit gunung akut pada ketinggian lebih rendah dari 8.200 kaki (2.500 meter)," seru Dr. Andrew Luks, seorang profesor di Division of Pulmonary, Critical Care and Sleep Medicine dari University of Washington School of Medicine dalam sebuah studi tahun 2015 di Journal of Applied Physiology.

Penyakit gunung akut (AMS) tidak fatal, tetapi gejalanya dapat membuat pendaki merasa payah. AMS memengaruhi hingga 77% pendaki yang mendaki hingga ketinggian antara 6.000 dan 19.300 kaki (1.850 dan 5.895 meter

Di sana, kadar oksigen hanya sepertiga dari yang ada di permukaan laut, dan tekanan barometrik menyebabkan berat badan terasa sepuluh kali lebih berat. Kombinasi keduanya membuat pendaki merasa lamban, bingung dan kelelahan parah yang dapat menyebabkan tekanan ekstrem pada organ. Karena alasan ini, pendaki biasanya tidak bertahan lebih dari 48 jam di daerah ini seperti mengutip blog Lamiscorner.

Berikut 3 Jasad ikonik yang membeku di gunung Everest.

Green Boots

Green Boots Everest [Wikipedia]
Green Boots Everest [Wikipedia]

Salah satu mayat paling terkenal dikenal dengan sebutan "Green Boots".

Mengutip Wikipedia, Mayat pendaki ini dilewati oleh hampir setiap pendaki untuk mencapai zona kematian. Identitas Green Boots diperdebatkan, tetapi paling banyak diyakini Green Boots adalah Tsewang Paljor, seorang pendaki India yang meninggal pada tahun 1996.

David Sharp

Pada 2006, pendaki lain bergabung dengan Green Boots di guanya, duduk, memeluk lutut di sudut, selamanya.

David Sharp berusaha untuk mencapai puncak Everest sendiri. David berhenti untuk beristirahat di gua Green Boots, seperti yang dilakukan banyak orang sebelumnya. Selama beberapa jam, David membeku sampai mati, tubuhnya tersangkut dalam posisi meringkuk, hanya beberapa meter dari salah satu mayat pendaki Gunung Everest yang paling terkenal.

Dalam akun Youtube Jordyn Hoppemenyebut orang-orang mungkin tidak mengetahui saat kematian David Sharp karena saat itu hanya sejumlah kecil orang yang mendaki, setidaknya 40 orang melewati Sharp pada hari itu. Tidak satu pun dari mereka yang menyadari ataupun berhenti.

Kematian David memicu perdebatan moral tentang budaya pendaki Everest. Meskipun banyak yang melewati David ketika dia sekarat, dan keterangan saksi mata mereka menyatakan David tampak hidup dan dalam kesulitan, tetapi mereka tidak ada yang menawarkan bantuan.

Sir Edmund Hillary, orang yang pernah mencapai puncak gunung, mengkritik pendaki yang telah melewati David dan menghubungkannya dengan keinginan para pendaki yang lebih mementingkan untuk mencapai puncak

Jika kamu melihat seseorang yang sangat membutuhkan dan kamu sendiri masih kuat dan energik, maka kamu memiliki tugas untuk memberikan semua yang kamu bisa untuk membawa turun orang tersebut dan tujuanmu ke puncak menjadi sangat sekunder," kata Hillary kepada New Zealand Herald, setelah berita kematian Sharp tersiar.

Hennelore Schmatz

Youtube The Mountain Queen menceritakan tubuhnya tetap berada di gunung, terawat dengan sangat baik karena suhu di bawah nol yang konsisten. Dia tetap berada di Rute Selatan gunung itu, bersandar pada ranselnya dan dengan mata terbuka sementara rambutnya tertiup angin, sampai angin 70-80 MPH meniup lapisan salju di atasnya atau mendorongnya turun dari gunung . 

Ketika seseorang meninggal di Everest, terutama di zona kematian, hampir tidak mungkin untuk membawa mayat pendaki untuk turun. Kondisi cuaca, medan, dan kekurangan oksigen membuat sulit untuk sampai ke tempat ditemukannya mayat. Bahkan jika mereka dapat ditemukan, mereka biasanya sudah menempel di tanah, membeku di tempat

Sumber: suara.com


0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh