fbpx

0
0
0
s2sdefault

Dang Di Au Dang Di Ho, Tumagon Tu Begu.

Ini adalah ungkapan suku batak jika di hadapkan pada pilihan yang sulit, sama seperti memakan buah simalakama, "Jika dimakan mati Ibu, jika tidak dimakan mati Ayah".

 

Kondisi inilah yg dilihat oleh penulis atas situasi menghadapi pilpres 2019 mendatang.

Dang Di Au Dang Di Ho, Tumagon Tu Begu, artinya Tidak Untukku, Tidak Untukmu, Lebih Baik Untuk Hantu, ungkapan ini layak disebut untuk para capres, karena demi ambisi kekuasaan mereka melakukan apa saja. Jelas terlihat masyarakat sekarang di adu domba yang berpotensi terjadi perpecahan bangsa dan mungkin saja Indonesia bubar sebelum 2030 jika politik adu domba ini terus dimainkan

Kedua pasangan capres melalui pendukung dan tim pemenangannya setiap hari hanya adu sindir, adu ejek dan adu domba. Tidak pernah terdengar adu gagasan untuk memperbaiki keadaan bangsa utamanya pemberantasan korupsi.

PP untuk memberikan hadiah 200jt kepada pelapor korupsi, tetlihat bukan upaya yg sungguh-sungguh mremberantas korupsi, justru ini cenderung memberi ruang pada pelaku korupsi untuk terus berbuat korup.

Demikian juga menaikkan gaji para pejabat maupun aparatur negara tidak menjamin korupsi akan berkurang, justru semakin tinggi gajinya maka akan semakin tinggi nilai nominal korupsi atau suapnya.

Tidak satupun para capres ini yang berkomitment untuk memberantas korupsi dengan menggagasi pemberlakukan atau membuat UU hukum mati para koruptor dan sita semua harta istri/suami dan anak-anaknya sampai tak bersisa apalagi untuk membayar pengacara.

Daripada saling adu sindir, adu ejek dan adu domba, ayo para tim pemenangan untuk mendorong para capresnya untuk berkomitmen dan membuat fakta integritas akan memberlakukan dan membuat UU Hukuman Mati bagi semua pelaku koruptor agar Indonesia Bersih Korupsi 2019 benar-benar kenyataan. INDONESIA JAYA.

Horas, Batak Do Au :
Zul Abrum Sitindaon.

 


0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh