fbpx

0
0
0
s2sdefault

1575705752396(Gedung Gereja GKI Bondowoso yang berdiri di tanah yang diberikan Haji Atmo. Sebelah kanan adalah gedung gereja yang sudah direnovasi, sementara sebelah kiri dengan pagar berwarna kuning adalah rumah yang ditinggali keluarga Haji Atmo

Hampir setiap hari kita mendengar kabar tentang kebencian yang seperti nyala api bermunculan di pelosok negeri.  

Penganut agama A menyerang penganut agama lain.  Rumah ibadah agama B dibumihanguskan penganut agama lain.  Kabar-kabar seperti ini mewarnai posting status di pelbagai media sosial.  Soal kabar tak akurat, itu soal belakangan.  Sebarkan dulu, bakar emosi hingga caci maki bermunculan, dan baru kalau merasa perlu koreksi. Minta maaf? Ya, kalau ada yang mengancam akan menuntut ke pengadilan.  Tak banyak kabar yang menyejukkan hati dari pelosok negeri ini. 

 

Masih adakah harapan untuk Indonesia?  Bukankah tidak ada kerukunan dalam bangsa tanpa kerukunan antar umat agama?

Beberapa hari lalu saya mengadakan perkunjungan ke Gereja Kristen Indonesia yang ada di Kota Bondowoso, Jawa Timur. Saya pernah mengunjungi gereja ini beberapa kali, namun kemarin pandangan saya tertuju pada sebuah plakat yang di dalamnya ada potongan artikel surat kabar.  Saya ingin menuliskan ulang ada yang tertera dalam artikel surat kabar itu :

Screenshot 20191207 153251

“GKI (Gereja Kristen Indonesia) di jalan KH. Agus Salom Bondowoso satu-halaman dengan rumah Haji Atmodiwiryo, 83 tahun (inzet). Dan memang kapling tanah dan bahkan sebagian biaya bangunan gedungnya adalah bantuan daripadanya. Ketika seorang pendeta Protestan dari kota Surabaya “mengerling” kapling di sebelah rumah pak Atmo untuk membangun GKI di Bondowoso, kontan pak Atmo pun memberikan cuma2.

Sampai sekarang Atmodiwiryo yang seorang pengusaha tembakau kaya raya ini berdampingan rukun dengan gereja Protestan yang sudah didirikan beberapa tahun yl.

Belum lama berselang pak Atmo yang haji ini juga membangun Masjid Jami’ di Tegalampel.” (Surabaya Post, 27 Desember 1979. No 300)

Pak Haji Atmo, dalam perspektif saya, adalah sosok yang memahami bahwa semakin mendalam religiusitas seseorang, maka semakin terasah rasa kemanusiaan. Rasa kemanusiaan yang memampukannya untuk berbagi dan memberi bahkan kepada yang berbeda.

Hal seperti inilah yang tak banyak mewarnai pemberitaan belakangan ini. Kita membaca berita tentang kelompok-kelompok keagamaan tertentu yang nampaknya menyakini bahwa religiusitas seseorang menumpulkan rasa kemanusiaan.

Semakin religius, semakin menampakkan kebencian. Membenci dan membunuh insan atas nama yang illahi menjadi hal yang suci. Padahal, bukankah kesucian dalam religi seharusnya membuat kita makin rela menyelami rasa dan pikir insan lain? Yang Maha Suci itu pun memelihara segenap insan dengan kebaikan dan kemurahan-Nya setiap hari.

Sampai sekarang, hubungan baik antara gereja dan keturunan Haji Atmo terus berlangsung.

Seusai ibadah, saya dan beberapa anggota jemaat GKI Bondowoso menikmati sarapan pagi di warung yang dibuka oleh anak dari Haji Atmo. Warung itu berada di dalam lokasi yang sama dengan gedung gereja. Begitu akrabnya relasi yang terjalin, sehingga kami bisa langsung saja menegok ke dapur, memesan makanan, sembari mencomot gorengan yang baru saja matang. Rasa nikmat makanan berjalin dengan indahnya persaudaraan. Inilah Indonesia. Ya, berbeda, namun kita bersama-sama adalah anak bangsa!

Masa depan bangsa ini ada pada relasi antar pemeluk agama.

* potret adalah koleksi pribadi

Sumber: kompasiana.com


0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh