Top Stories
-
Pemula Tetap Trading Saham Lapis-I Saja Dulu Ya!
-
Tak Perlu Marah Saat Pendeta dan Gereja Dibahas di Media Sosial
-
Pelajarannya Jelas, Jika Minus Sudah Melebihi - 2% Harus Cut Loss.
-
Yang Membahayakan Gereja Bukan Kritik yang Keras, Tetapi Pendeta yang Tidak Lagi Bisa Dikoreksi.
-
Para Fans BUMI, Lihat Order Book Ini!
-
R. Noto Widjojo: Scalping itu Tidak Peduli Index Merah atau Hijau Sama Saja.
-
Melompatlah Dari Gereja Yang Pendetanya Sibuk Mengintai Uangmu.
-
Hari Jumat ini Serasa Trading Bareng. Yuk kita Review buat Pelajara
-
Pelajaran Penting Siang Ini Untuk Yang Sudah Senior.
Search
- Details
- Category: Inspirasi dan Inspiratif
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1304

Mengutip Forbes, Jumat (4/1/2019), Chaleo sempat menduduki orang terkaya nomor 4 di Thailand pada periode 2012. Pria ini mempelajari obat-batan di apotek milik sang kakak. Hingga akhirnya ia memiliki perusahaan farmasi pada era 60an bertama TC Pharmaceutical Industries.
Chaleo berupaya keras untuk membuat minuman berenergi ini bisa menembus pasar internasional. Hingga akhirnya pada 1982 datang seorang pengusaha asal Austria bernama Dietrich Mateschitz datang kemudian mencoba dan sangat jatuh cinta dengan minuman milik Chaleo.
Promosi yang dilakukan oleh Chaleo dan Dietrich sangat berbeda dengan produk lain. Mereka memasang botol raksasa di atas mobil yang berkeliling kota. Minuman ini sempat menjadi pesaing Coca Cola hingga Pepsi.
Kini bisnis raksasa itu dijalankan oleh anak serta cucunya. Putra sulung Chaleo bernama Chalerm pegang 2% saham perusahaan. Kemudian, berikutnya merupakan direktur pelaksana Red Bull Thailand.
Anak laki-laki Charlem, Varit memegang kendali di pabrik anggur dan dealer Ferrari milik keluarga mereka. Keluarga ini juga memiliki bisnis rumah sakit mewah.
Namun Vorayuth saat ini menjadi buronan Interpol karena dugaan pada kasus tabrak lari yang sangat fatal 2012 lalu.
Tak sampai di situ, keluarga ini juga masuk dalam daftar Panama Papers. Di mana keluarga ini memiliki hampir setengah lusin perusahaan anonim yang tidak membayar pajak selama dua dekade. Dalam sebuah keterangan, Red Bull menyatakan masalah tersebut adalah bersifat pribadi dan tidak akan mempengaruhi perusahaan.
Pada 2017 keluarga Yoovidhya menduduki posisi ke 22 orang terkaya di Asia. Jumlah hartanya mencapai US$ 13,1 miliar atau setara dengan Rp 189,95 triliun (kurs Rp 14.500).
Kemudian di Thailand keluarga ini menduduki posisi orang terkaya nomor empat dari daftar 50 orang terkaya Thailand 50.
(kil/ang)
- Details
- Category: Inspirasi dan Inspiratif
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1260
Read more: 10 Perusahaan Raksasa yang Lahir dari Garasi Rumah, Siapa Sangka?
- Details
- Category: Inspirasi dan Inspiratif
- By ZA Sitindaon
- Hits: 2269

Sudhamek Foto: Trio Hamdani/detikFinance
Puti Aini Yasmin - Detik Finance
Jakarta - Siapa yang tak tahu brand industri GarudaFood? Dibalik kepopulerannya ternyata ada orang yang luar biasa, yakni Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto.
Bayangkan saja, sebelum menjadi orang sukses dan kaya raya ia sempat mengalami masa yang tak mengenakan. Dia pernah dibully dan dihia miskin oleh teman-temannya.
Read more: Bos GarudaFood: Pernah Dihina Miskin hingga Jadi Orang Kaya
- Details
- Category: Inspirasi dan Inspiratif
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1264
Sudah 18 tahun Ketut bekerja sebagai juru parkir. Sejak suaminya meninggal, dia bekerja untuk menafkahi kedua anaknya.
"Dulunya saya ibu rumah tangga tapi sejak suami saya meninggal 1997, saya harus bekerja untuk makan keluarga," ujar Ketut saat berbincang, Sabtu (22/12/2018).
Read more: Kisah Ni Ketut Lastri, 18 Tahun Jadi Juru Parkir Demi 2 Anak
- Details
- Category: Inspirasi dan Inspiratif
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1317

Charles de Ganahl Koch adalah pimpinan, pemilik dan CEO dari perusahaan raksasa di Amerika Serikat (AS), Koch Industries. Selain menjadi seorang pengusaha, dia juga seorang dermawan yang cukup aktif.
Koch Industries didirikan oleh Fred C. Koch, ayah Charles Koch bersama dengan saudaranya David Koch. Perusahaan ini menjadi perusahaan swasta terbesar kedua di AS.
Read more: Charles Koch, Manusia Rp 697 T yang Sukses Dari Bisnis Warisan
- Details
- Category: Inspirasi dan Inspiratif
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1689
Hendra Kusuma - detikFinance
Jakarta - Seluruh bidang usaha memiliki risiko yang sama, jika tidak mampu beradaptasi dengan perkembagan zaman. Maka, usaha itu pun akan mati dengan sendirinya.
Hal itu juga berlaku pada bidang usaha percetakan khususnya tukang 'ngeprint' dan penjilidan yang kebanyakan berlokasi di sekitaran kampus maupun perkantoran.
Budi, salah satu pemilik toko fotokopi di sekitaran Stasiun Pondok Cina mengatakan banyak pesaingnya harus rela beralih profesi karena tidak mampu beradaptasi dalam menjalankan bisnis fotokopi dan penjilidan.
Dia pun tidak segan, menyebut pesaingnya tersebut sebagai amatiran. Pasalnya, dulu toko percetakan banyak di wilayah usahanya.
Read more: Bisnis "Ngeprint Didepan Kampus, Cerita Tukang "Ngeprint" Alih Profesi Jadi Ojek Online
