Top Stories
-
Punguan Sitindaon Boru Bere Kota Medan: Partangiangan atau Kebaktian Minggu 19 April 2026.
-
Siap-siap! Mulai Hari Ini 18 April 2026 Harga Pertamina DEX Naik Tajam
-
Mustahil Bisa Sukses dan Memiliki Rasa Aman Jika Tidak Mencoba Skill Baru dan Menambah Jam Kerja.
-
Tahun 2026 Yang Semakin Sulit
-
Lulus SMA, Mau Kuliah atau Langsung Kerja?
-
Anda Datang ke Bumi Sendirian dan Akan Pergi Sendirian
-
Kenali Tipe Pembungaan untuk Tingkatkan Produktivitas Alpukat
-
Kandungan Nutrisi, Manfaat, Risiko, dan Pantangan Konsumsi Durian.
-
Memancing Ikan Harus Ditempat yang Banyak Ikan, Memancing Uang Harus Ditempat yang Banyak Uang.
Search
- Details
- Category: Lifestyle & Health
- By Sakti Sitindaon
- Hits: 244

Ilustrasi jam ngopi. Foto: Lokana/shutterstock
Read more: Ahli Ingatkan Waktu Minum Kopi yang Paling Buruk bagi Kesehatan
- Details
- Category: Lifestyle & Health
- By ZA Sitindaon
- Hits: 437
Daging sapi dan kambing setelah disembelih. Sumber : Viva Jatim/Madchan Jazuli
Surabaya, VIVA Jatim – Salah satu penyakit yang tak boleh dianggap sepeleh adalah asam urat. Kondisi kesehatan yang terjadi ketika tubuh menghasilkan terlalu banyak asam urat atau tidak dapat mengeluarkannya dengan efisien.
Dikutip dari VIVA, Selasa, 28 November 2023, tingginya kadar asam urat dalam tubuh dapat menyebabkan pembentukan kristal asam urat yang menumpuk di sekitar sendi, menyebabkan rasa sakit dan peradangan. Bagi penderita asam urat, mengelola pola makan menjadi kunci utama untuk mengendalikan gejala dan mencegah flare-up. Berikut adalah lima jenis makanan yang sebaiknya dihindari oleh penderita asam urat.
Read more: Bagi Penderita Asam Urat, Hindari 5 Jenis Makanan Ini
- Details
- Category: Lifestyle & Health
- By ZA Sitindaon
- Hits: 286
Di Amerika Serikat, sebuah penyakit kuno mendadak muncul lagi di sebagian wilayahnya. Penyakit itu dikenal dengan nama scurvy atau skorbut. Foto: Wikimedia Commons
Di Amerika Serikat, sebuah penyakit kuno mendadak muncul lagi di sebagian wilayahnya. Penyakit itu dikenal dengan nama scurvy atau skorbut atau lebih dikenal dengan kudis.
Pada zaman dahulu, para bajak laut, penjelajah hingga pelaut mengalami penyakit ini. Saat itu, kudis masih misterius sehingga banyak yang meninggal dunia karena kondisinya tidak diobati dengan baik.
Melansir IFL Science, scurvy atau kudis adalah penyakit langka yang terjadi karena kekurangan vitamin C selama kurang lebih tiga bulan. Tubuh tidak bisa memproduksi vitamin C sehingga butuh mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin itu
Gejala awal dari kudis antara lain kelelahan, mual, nyeri sendi hingga gusi membengkak, memar parah, kerusakan rambut, pendarahan di sendiri dan otot-otot. Pada anak-anak, ini bisa mempengaruhi tulang sehingga menyebabkan stunting.
Untuk kasus yang parah, scurvy bisa menyebabkan pendarahan pada internal dan komplikasi lain sehingga bisa mengarah pada kematian.
Untungnya, kudis terbilang mudah untuk diobati. Anda hanya harus meningkatkan konsumsi vitamin C dalam diet sehari-hari.
Scurvy pertama kali didokumentasikan pada tahun 1550 SM oleh orang Mesir kuno. Namun, kejadian paling dikenal adalah yang menimpa para pelaut abad ke-18. Berada di laut dalam waktu yang lama membuat pelaut kekurangan buah-buahan segar dan sayuran untuk dimakan.
Selain pada pelaut, scurvy juga berdampak buruk pada Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Faktanya, penyakit ini diperkirakan merupakan penyebab kematian terbesar di laut melebihi badai dahsyat, kapal karam, pertempuran, dan penyakit lainnya.
Saat ini, penyakit kudis banyak ditemui di negara-negara berkembang, di mana malnutrisi paling umum terjadi. Akan tetapi, penyakit ini tampaknya muncul kembali di negara-negara di mana masyarakatnya seharusnya memiliki akses terhadap banyak makanan kaya vitamin C. Ini disebabkan pola makan yang tidak sehat dengan absennya kebutuhan buah dan sayur yang harus dipenuhi.
Dokter Eric Churchill, yang berpraktik di Springfield, Massachusetts, menjelaskan bahwa timnya sendiri telah mendiagnosis antara 20 dan 30 kasus penyakit ini selama enam tahun terakhir.
"Banyak orang yang kesulitan membeli makanan cenderung memilih makanan yang tinggi lemak, berkalori tinggi, dan sangat mengenyangkan," kata Churchill dalam film dokumenter Vitamania.
"Jika Anda memiliki anggaran makanan yang terbatas, makanan itulah yang akan membuat Anda kenyang dan lebih memuaskan Anda daripada makan buah dan sayur," lanjutnya.
Oleh karena itu, mereka yang berstatus sosial-ekonomi rendah di negara-negara kaya adalah mereka yang terkena dampak penyakit gizi ini.
Sumber: https://inet.detik.com


